Kajian

Sandal Imam Ahmad dan Jin : Ust. Sudarman

Kajian Rutin PCM Metro Barat pada kesempatan ini disampaikan oleh Ustadz Sudarman(02/08). Membahas tentang tafsir surat al-fatihah dan keutamaannya.

Di sela-sela kajian beliau menyampaikan kisah tentang imam ahmad yang membuat jama’ah tersenyum geli. Berikut ini adalah kisahnya.

Ada sebuah kisah dalam kitab Thabaqat Al Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la bahwa suatu hari Al Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- sedang berada di masjid.

Kemudian datanglah khalifah Al Abbas Al Mutawakkil kepada beliau memberitahukan bahwa ada kerabatnya yang bernama Jariyah, kerasukan jin.

Khalifah Al Mutawakkil meminta Al Imam Ahmad -rahimahullah- untuk berdoa kepada Allah agar kerabatnya diberi kesembuhan. Setelah berdoa, Al Imam Ahmad -rahimahullah- menitipkan sandalnya lalu beliau berkata: “Bawalah sandal ini ke kediaman Amirul Mu’minin dan letakkan di sebelah kepala Jariyah dan katakan kepadanya (kepada jin) bahwa Ahmad bin Hanbal berkata kepadamu: “Keluarlah dari tubuh Jariyah ini atau aku akan memukulmu sampai 70 kali!”

Lantas jin tersebut berkata melalui lisan Jariyah: “Aku mendengar dan taat. Kalaupun seandainya Ahmad bin Hanbal menyuruhku pergi dari Iraq, aku pasti akan menuruti perintahnya.

Sesungguhnya dia itu orang yang taat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada Allah, siapapun akan menurut kepadanya.” Kemudian keluarlah jin tersebut dari tubuh Jariyah.

Sepeninggal Imam Ahmad bin Hanbal wafat, jin yang dahulu kembali merasuk pada tubuh Jariyah. Khalifah Al Mutawakkil lantas mendatangi penerus dakwah Imam Ahmad, yakni Imam Al Marwadzi -rahimahullah-, lalu memberitahukan keadaan Jariyah.

Al Imam Al Marwadzi pun mengirimkan sandalnya lalu disuruh diletakkan di sisi kepala Jariyah dan dikatakan kepada jin yang merasuk sebagaimana dahulu.

Alih-alih keluar, jin Ifrit tadi menjawab: “Aku tidak akan keluar. Aku tidak mau menuruti perintahmu. Susungguhnya Ahmad bin Hanbal itulah yang taat kepada Allah dan aku hanya mau menuruti perintahnya.”

Kajian

Mendahulukan yang Tua, Menghargai yang Muda : Ust. Abdurrahim Hamdi, M.A

Kajian PCM MB pada kesempatan ini disampaikan oleh Al-Ustadz Abdurrahim Hamdi, M.A membahas tentang adab memuliakan yang tua dan menghargai yang muda.

Siapa yang disebut orang yang lebih tua? Bisa karena umur bisa juga karena ilmu nya yang tinggi.

Memuliakan orang tua dalam segala hal, kecuali ada dalil yang mengecualikan. Termasuk dalam menyebutkan nama, imam nawawi rahimakumullah mengatakan disunnahkan bagi anak, murid, untuk memanggil orang tua dan guru dengan tidak memanggil namanya saja.

Yang selanjutnya jangan berjalan didepannya, jangan duduk sebelum dia duduk, jangan membantah, yang dimaksuda adalah ketika diperingatkan atau dinasehati akan kesalahan maka tidak boleh membantah atau menyela.

Ibnu Taimiyah mengatakan

Hukum asal adat (kebiasaan masyarakat) adalah tidak terlarang selama tidak ada larangan oleh Allah didalamnya (Al-majmu’ al fatawa 4: 96).

1. Mencium Tangan (tapi tidak menjadi kebiasaan, dan tidak menjadikan yang disalami menjadi sombong)

2. Tidak boleh membungkuk di hadapan orang tua tetapi berjabat tangan (HR. Ibnu majah 3720 dinilai hasan oleh al-bani)

Kajian

Bagaimana kita setelah selesai Ramadhan? Ust. Fir’adi, Lc

​Pimpinan Cabang Muhammadiyah memulai kembali kajian malam kamis (12/07) di Masjid At-taqwa Panti Asuhan Budi Utomo Muhammadiyah Metro.

Dalam kesempatan tersebut Ust. Fir’adi Ahmad Mustaqim, Lc, M.Hi  memaparkan tema tentang “bagaimana kita selepas ramadhan?”.

Banyak sekali manusia yang bersemangat di bulan ramadhan  tetapi tidak dilakukan kembali selepas ramadhan, mereka itulah orang-orang yang tidak mengetahui hak Allah kecuali hanya dibulan Ramadhan saja.

Dalam riwayat muslim ada 3 orang yang memiliki amalan besar pertama orang yang mati syahid, kedua orang yang qari’ senantiasa mengajarkan al-qur’an, ketiga orang yg dermawan. Namun karena niatnya tidak lurus dan tepat, maka mereka diseret dengan kepala dibawah ketika di akhirat.

maka penting bagi kita untuk istiqomah dan meluruskan niat dalam berbuat kebaikan.

ibnu qayyim mengatakan orang yang bisa dikatakan istiqomah adalah orang yang jujur dalam berucap dan bertindak. 

Balasan bagi orang-orang yang senantiasa istiqomah :

  1. Diberikan kabar gembira (akan diberikan ketika kematian datang, ketika dialam kubur, ketika hari kebangkitan).
  2. Mendapatkan keluasan rezeki (dimana ada air disana ada harta : umar bin khattab).
  3. Mendapat ampunan dari yang maha kuasa dan surga sudah pasti akan mengikutinya.

Membangun pribadi istiqomah dengan menjalankan amalan dengan terus menerus walaupun sedikit, yang kedua dengan berdo’a, ketiga dalah dengan senantiasa berdekatan dengan orang-orang sholih, yang keempat adalah dengan belajar kepada orang-orang sholih terdahulu.

Kajian

Semangat Menghidupkan Ranting : PRM Ganjar Agung

​Pimpinan Ranting Muhammadiyah Ganjar Agung mengadakan kajian rutin di Mushola Al-Hidayah (09/05).

Pada kesempatan ini materi disampaikan oleh Ustadz Sudarman, membahas tentang semangat menghidupkan kajian di ranting.

Beliau menceritakan tentang pengalaman ranting-ranting di plosok lampung timur yang di ambil alih oleh organisasi islam (salafi), di karenakan ghirah bermuhammadiyah terkikis. Sudah saatnya ranting bangkit untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat sekitar. Mengajarkan keislaman kepada keluarga, agar generasi penerus menjadi tangguh dan mampu bersaing dengan yang lain.

Jangan biarkan Muhammadiyah digerogoti oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Saatnya berbenah hidupkan tabligh.

Ternyata banyak yang harus kita benahi, manggaet generasi muda agar cinta dengan Muhammadiyah dan beribadah dengan kaffah.